Rupiah Jebol Rp18.000: Trilema Moneter Desak BI Berhenti Bakar Devisa

Ilustrasi Dollar

nusantaramerdeka.id — Kurs rupiah mencetak sejarah kelam setelah jebol ke level Rp18.003 per dolar AS dalam pembukaan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 pukul 09.05 WIB. Pelemahan sebesar 37 poin ini dipicu oleh pelarian modal massal akibat revisi outlook kredit Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s dan Fitch Ratings.

Kondisi ini diperparah oleh lonjakan inflasi pangan Mei yang menyentuh angka 4,94% akibat ambruknya jalur distribusi. Sektor domestik kini rapuh akibat sentralisasi kebijakan ekonomi yang mengusir dana asing sebesar Rp19,47 triliun dari pasar SBN.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin, 19 Mei 2026 mengakui penyusutan dana penahan kurs tersebut. “Jangan kaget, turun sekitar 10 miliar dollar AS. Tapi jumlah intervensi ini baru spot, baru tunai,” jelas Perry.

Pengurasan cadangan devisa dari USD156,5 miliar menjadi USD146,2 miliar terbukti gagal menahan kejatuhan mata uang Garuda. Bank sentral kini terpojok pada titik jenuh karena instrumen intervensi konvensional kehilangan taji sejak rupiah menembus Rp17.000.

Baca Juga :  Strategi Dedolarisasi Indonesia Picu Lonjakan Transaksi LCT Hingga 163 Persen

Lembaga ISEAI dalam laporan strategisnya pada Kamis, 14 Mei 2026 menegaskan bahwa BI kini terperangkap dalam jebakan trilema moneter global. Bank sentral mustahil mempertahankan kedaulatan kurs secara simultan di tengah pasar modal yang dibiarkan bebas sebebas-bebasnya.

Pilihan mempertahankan suku bunga tinggi demi rupiah kini mengancam pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan sektor lapangan kerja domestik. Pemerintah tidak bisa lagi berlindung di balik narasi stabilitas semu sementara beban fiskal impor energi meroket. ***